Jumat, 03 Juli 2009

MANA LEBIH SADIS YANG DIALAMI SITI HAJAR ATAU MANOHARA ? ( Catatan )

Mana yang lebih sadis dan lebih menderita akibat penyiksaan yang dialami Siti Hajar atau Manohara ?… Jelas Siti Hajar dengan kondisi yang babak belur dan cacat seumur hidup… Tapi dimana perhatian, kepedulian dan pembelaan publik terutama media dan para Advokad kondang (yang katanya pendekar penegakan hukum dan keadilan) terhadap orang seperti Siti Hajar ? Apakah karena dia hanya seorang TKI dari kalangan jelata dan bukan selebritis ? sehingga kasus yang dialaminya tidak mendapat perhatian dan pembelaan sebagaimana perhatian dan pembelaan terhadap Kasus Manohara yang sangat berlebihan… Padahal jika dinilai penyiksaan dan penderitaan yang dialami Manohara hanyalah nol koma nol nol sekian persen (atau setaik upil) dibandingkan penyiksaan dan penderitaan yang dialami Siti Hajar... Sangat disayangkan ternyata publik, media dan para Advokad sudah tidak bisa memilah dan menilai dengan mata dan hati yang jernih, mana yg harus diberikan eksta perhatian, dukungan dan pembelaan........... Yach ... Ternyata masih begitulah masih Orang Indonesia !!!

Sabtu, 06 Juni 2009

BERSAMA DR. LUHUT MP PANGARIBUAN, SH, LL.M

Saat berdialog dengan DR. Luhut MP Pangaribuan, SH, LL.M
Usai menghadiri salah satu Persidangan di Pengadilan Negeri Pematangsiantar (Selasa, 3 Juni 2009)


Sabtu, 30 Mei 2009

BER ORASI PADA AKSI UNJUK RASA ALIANSI JURNALIS ANTI KEKERASAN (AJAK)


Saat Aku ber orasi pada aksi unjuk rasa Aliansi Jurnalis Anti Kekerasan (AJAK) di Polresta Pematangsiantar (Jumat 29 Mei 2009)
Aksi tersebut menuntut agar Polresta Pematangsiantar serius menangani dan mengusut Aksi teror, ancaman dan kekerasan terhadap Jurnalis di Pematangsiantar yang berlangsung belakangan ini, seperti Aksi teror dan ancaman yang dialami Kantor Redaksi Harian Siantar 24 Jam tanggal 26 Mei 2009 lalu.

Selasa, 19 Mei 2009

* Catatan dan Informasi Tentang Artikelku

Artikelku yang berjudul

"GOLF DAN PEJABAT"
telah diterbitkan di Harian Metro Siantar, Metro Asahan Rantau, Metro Tapanuli dan Metro Tabagsel
pada tanggal 19 Mei 2009

Sabtu, 16 Mei 2009

* GOLF DAN PEJABAT ( A r t i k e l )


GOLF DAN PEJABAT

Oleh : M. Alinapiah Simbolon, SH


Rasanya tak pernah terdengar turnamen atau kejuaraan Golf yang pesertanya para pejabat ataupun para pengusaha yang juga notabene teman karibnya pejabat, dan sudah pasti sangat langkah rasanya hal itu terdengar terutama bagi kaum awam, jangankan mendengar Kejuaran atau Turnamen Golf antar pejabat ataupun tesinnya pejabat yaitu pengusaha, melihat langsung permainan golf pun merupakan barang langkah bagi sebagian besar kaum awam karena olah raga itu memang domeinnya para eksklusif atau kalangan elite alias dalam istilah zaman kolonial disebut kalangan borjuis yang didalamnya termasuklah para aristrokrat dan kapitalis atau istilah infotainment kalangan tersebut juga terkatagori kalangan selebritis..

Dan untuk ukuran negara kita Golf sesungguhnya sangat jauh berbeda dengan olah raga lain, karena bagi orang-orang dinegeri ini terutama yang berada pada level jelata merupakan hal yang utopis bisa bermain golf apalagi untuk menjadi atlit golf, makanya tak pernah ada dan mungkin takkan pernah ada Tiger Wood atau Chad Campbel dari Indonesia. Pastinya bagi kita yang jelata harus bersabar menunggu jadi pejabat ataupun pengusaha terlebih dahulu baru memungkinkan bermain golf.

Golf memang asing bagi kaum awam, tapi tidak demikian bagi kalangan berkelas, dan itu digemari bahkan seakan menjadi olah raga wajib bagi kalangan dimaksud. Olahraga mahal itu sudah menjadi trade mark bagi kaum elite, malah boleh dibilang Golf akan lebih menyempurnakan eksistensi mereka sebagai penyandang predikat kaum elite, termasuklah itu menunjang kesempurnaan predikat mereka sebagai pejabat ataupun pengusaha.

Ansari Azhar dan Nasruddin Zulkarnaen mungkin merupakan segelintir atau dua orang dari sekian banyaknya orang-orang atau golongan pencari kesempurnaan bagi profesi yang disandangnya, sehingga mereka berkecimpung menjadi pemain atau peng hobby golf tapi bukan masuk kategori atlit olahraga golf. Mungkin-mungkin saja anak manusia yang bernama Antasari Azhar dengan puncak karir sebagai Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) maupun yang bernama Nasruddin Zulkarnaen dengan jabatan terakhir sebagai Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (salah satu anak perusahaan BUMN), saat masih belum berjabatan atau masih bawahan tak mengenal apa itu yang namanya golf. Lalu sejalan dengan meningkatnya karir maka pola gaya hidup pun dituntut ataupun tertuntut untuk berubah, mengikuti gaya elite para pendahulu yang sudah mengkultur dan melekat dikalangan level atas, salah satunya bermain golf dan itu mereka lakoni seperti para pejabat ataupun kalangan atas lainnya. Malah demi kepentingan bermain golf, seorang Antasari Azhar pun tidak peduli dengan adanya rambu dari internal Institusi yang dipimpinnya yang melarang pimpinan KPK menggeluti olahraga itu untuk kepentingan sterilisasi atas jabatan yang disandangnya.

Lalu apa yang jadi masalah kalau pejabat ataupun pengusaha bermain golf ? Memang sebenarnya tak ada masalah ataupun yang harus dipermasalahkan, karena bermain golf adalah hak. Golf memang miliknya orang berkantong tebal. Pejabat dan pengusaha sudah pasti orang yang berkantong tebal, sehingga pantas saja mereka bermain golf, kendati sudah menjadi cerita lama atau menjadi wacana umum selama ini, bahwa ada kepentingan kekolegaan antar elite termasuk juga kepentingan jabatan maupun kepentingan bisnis dibalik acara main golf bagi kalangan tersebut.

Namun tak bisa kita pungkiri bahwa kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnaean yang telah menyeret Antasari Azhar menjadi seorang imigran yang menetap sementara di dibalik jeruji tahanan Polda Metro Jaya karena diduga kuat sebagai otak pembunuhan terhadap Bos PT Putra Rajawal Banjaran itu, adalah sebuah malapetaka besar yang berawal dari lapangan golf, dimana dua orang hebat sesama pemain golf saling bersaing atau berkompetisi memperebutkan piala berupa wanita cantik berprofesi sebagai caddy lapangan golf yang bernama Rani Juliani.

Pristiwa yang membuat heboh seantero negeri tersebut akhirnya telah mengubah status dua gelintir orang hebat di negeri ini, yang selama ini sama-sama merumput di lapangan Golf Padang Modernland Club yang berlokasi di Tangerang. Yang satu seorang pejabat tinggi di perusahaan besar yang status karirnya akhirnya padam alias pensiun dini dengan menerima predikat almarhun setelah meregang nyawa ditembus peluru penembak bayaran. Dan yang satu lagi adalah seorang petinggi negeri yang sebelumnya tengah berada dipuncak karir sebagai Pimpinan Lembaga Penegakan hukum bernama KPK yang ditakuti para koruptor di negeri ini, karena diduga kuat terlibat sebagai otak pembunuhan Nasruddin akhirnya berubah status dari seorang sosok yang dikenal membuat para koruptor berada dibalik jeruji, kini menjadi seorang yang berstatus tahanan dan akhirnya juga berkediaman dibalik jeruji, menyusul para sang koruptor yang pernah dijebloskannya.

Dan bukan hanya itu karir dua orang elite lainnya yang satu dikenal sebagai Politikus dan Pengusaha Media bernama Sigid Haryo Wibisono dan yang seorang lagi Pejabat Kepolisian RI bernama Kombes Pol. Wiliardi Wizard, pun ikut berubah status menjadi tahanan yang juga meringkuk dibalik Jeruji besi karena keterlibatannya sebagai otak pembunuhan Nazaruddin.

Malapetaka yang telah dialami Nasruddin dan nasib naas yang kini dialami Antasari adalah gambaran dua orang dari kaum berkelas yang satu pejabat perusahaan dan satunya lagi pejabat negara yang sama-sama peng hobby golf dan bermain golf diarena yang sama. Dan dapat dikatakan akhir karir merekapun berawal dari kompetisi di lapangan golf, tapi bukan kompetisi dalam rangka perebutan piala kejuaraan golf, tapi dalam rangka memperebutkan cinta seorang wanita cantik jelita yang bekerja sebagai caddy lapangan golf. Peristiwa itu seakan memberikan image tambahan, bahwa kaum elite tidak hanya menjadikan lapangan golf sebatas arena bermain golf saja. dus sebagai arena sambilan yang selama ini terwacana dimanfaatkan untuk kepentingan kekolegaan antara kaum elite, termasuk juga kepentingan jabatan ataupun bisnis sebagaimana dibayangkan kaum awam. Tapi sudah lebih dari itu, terbukti diarena golf pun telah menjadi lokasi awal perjalanan kisah nyata cinta segitiga dengan warna perselingkuhan yang dilakoni dua orang pejabat memperebutkan seorang wanita yang ending ceritanya berakhir tragis, memilukan dan memalukan.

Mungkin pristiwa Pembunuhan Nasruddin dan keterlibatan Antasari sebagai dalang pembunuhan tersebut memberikan tambahan kesan negatif terhadap aktifitas kalangan elite peng hobby golf. Sebab wajar terbangun pemikiran bahwa terjadi affair para elite dengan wanita diarena atau melalui arena permainan golf mungkin bukan hanya dilakoni Nasruddin dan Antasari saja. Malahan paskah terkuaknya pristiwa dengan latas belakang cinta segitiga itu sudah muncul wacana bahwa tingkat kecurigaan dan kekhawatiran para isteri bersuami pejabat atau kalangan elite peng hobby golf semakin tinggi. Wajar dan sah-sah saja memang, namanya pejabat !!!



Penulis adalah

Direktur Eksekutif Government Monitoring

Siantar – Simalungun

e-mail : m.alinapiahs@yahoo.com

http//www.ali-dolisimbolon.blogspot.com

Senin, 11 Mei 2009

SELAMAT ULANG TAHUN KE 6 BUAT ANAKKU

Hari ini tanggal 11 Mei 2009,
Anakku yang sangat kusayang dan kucinta

DOLIARGA HASANUL ABDILLAH SIMBOLON

tepat berusia 6 tahun.

Selamat Ulang Tahun buatmu Jagoanku, Harapanku, dan Buah Hatiku.........
Semoga Panjang Umur dan kelak menjadi orang berbakti dan berguna...... Setidaknya Kami sangat berharap engkau kelak menjadi Lelaki yang yang bernilai dan berharga sesuai namamu Doliarga ........
Kami tetap sayang dan cinta samamu

Jumat, 10 April 2009

* Catatan dan Informasi tentang Artikelku


Artikelku yang berjudul

CONTRENGAN RAKYAT
"MEMBAWA NIKMAT ATAU LAKNAT"
telah diterbitkan di Harian Metro Siantar
pada tanggal 8 April 2009

Selasa, 07 April 2009

* CONTRENGAN RAKYAT "MEMBAWA NIKMAT ATAU LAKNAT" ( A r t i k e l )

CONTRENGAN RAKYAT

“MEMBAWA NIKMAT ATAU LAKNAT”

Oleh : M. Alinapiah Simbolon, SH


Mencontreng dalam arti sebuah perbuatan bukanlah pekerjaan yang rumit, bahkan terlampau mudah untuk dilakukan, termasuk bagi orang yang buta hurup sekalipun. Namun kegiatan mencontreng secara nasional yang akan dilakukan pada hari kamis tanggal 9 April 2009, adalah sebuah kegiatan mencontreng yang sangat istimewa karena dilakukan dalam konteks Pemilihan Umum yang menjadi agenda politik nasional. Dan perbuatan mencontreng dimaksud tentunya sangat memiliki makna politis, dalam arti contrengan dan hasil contrengan sudah pasti menentukan masa depan bangsa dan negara untuk masa lima tahun kedepan. Dengan demikian kegiatan contreng mencontreng dalam konteks pemilu tidak lagi menjadi sebuah perbuatan gampang dan mudah meskipun cara dan petunjuk mencontreng sudah ada aturannya bahkan sudah tersosialisasi dalam waktu yang cukup lama.

Acara mencontreng dengan label pesta demokrasi ini, idealnya menuntut adanya sebuah perhitungan berdasarkan akal sehat, tentunya bagi rakyat pemilih yang memiliki kompetensi sebagai peserta pencontreng, akal sehat setidaknya haruslah dijadikan motivator ataupun instrument berpikir sebelum melakukan pencontrengan. Ini semua harus menjadi pemahaman bagi rakyat sebelum melakukan pencontrengan, karena hasil contrengan yang notabene merupakan sebuah pilihan adalah sebuah keputusan urgen yang menentukan nasib rakyat dan bangsa negara republik ini. Kalau kemudian timbul sebuah pertanyaan, Apakah rakyat pemilih bisa dan mampu mencontreng berdasarkan akal sehat ? tentu sangat sulit untuk menjawabnya, meski usai pemilu pun tetap akan sulit untuk menjawab apakah caleg yang terpilih ataupun partai pemenang adalah hasil contrengan berdasarkan akal sehat.

Secara jujur harus kita akui akal sehat dari rakyat bangsa ini terutama dalam hal menentukan sikap dan pilihan politik terlalu sulit untuk diketahui parameternya. Kondisi rakyat dalam semua aspek kehidupan yang sebahagian besar masih berada pada katagori memprihatinkan, sangat tidak menjamin rakyat bangsa ini akan berpikir sesuai akal sehat ketika memanfaatkan hak politiknya atau menentukan pilihannya dalam pemilu kali ini. Bagaimana rakyat miskin bisa berpikir dengan akal sehat menghadapi dan menggunakan hak politiknya dalam pemilu, jika memikirkan makan atau memikirkan hidup saja mereka harus berpikir tujuh keliling, dan pada level seperti ini kebanyakan rakyat akan lebih bersikap apriori mengahadapi pemilu ataupun menentukan pilihan, dan dalam posisi seperti ini juga kebanyakan rakyat berpikir instan sehingga relatif gampang dijadikan target permainan money politik para caleg.

Kondisi lain seperti banyaknya komoditas partai politik berbagai merek yang menjadi peserta pemilu dimana tiap komoditas partai politik juga membawa banyak komunitas produknya yang bernama caleg sebagai punggawa partai yang ditasbihkan untuk berperang memperebutkan hati rakyat diarena pemilu, juga mendorong dan memungkinkan akal sehat akan sulit berperan atau dijadikan sebuah pertimbangan pemikiran, bahkan bisa jadi tidak masuk menjadi bahagian dari niat rakyat pemilih untuk menentukan pilihan. Sebab pada kondisi ini juga membuat rakyat dilanda kebingungan untuk menentukan pilihan yang mana yang terbaik diantara limpah ruah caleg produk partai yang semuanya mengklaim dan terpromosi sebagai yang terbaik ibarat kecap nomor satu.

Sebenarnya masih banyak faktor lain yang berpotensi menjadi tembok yang menghambat rakyat untuk berpikir secara akal sehat menghadapi pemilu ataupun menentukan pilihan pada pemilu, diantaranya tingkat pengetahuan dan kesadaran politik rakyat yang masih rendah, terutama kurangnya kesadaran rakyat yang menganggap pemilu adalah bagian sangat penting dari sebuah proses demokratisasi yang sangat berperan menentukan nasib rakyat, bangsa dan negara. Mungkin tak perlu dijelaskan secara mendetail apa penyebab semua itu. Kalau dipikir-pikir wajar-wajar juga rakyat bersikap apatis dalam menentukan pilihan, karena dari pengalaman pemilu kepemilu tak ada hasil spektakuler yang bisa merubah wajah dan kehidupan rakyat republik ini secara umum, kalaupun ada yang berubah tak lebih hanyalah perubahan status segelintir orang rakyat dari dua ratus lima puluh juta lebih rakyat negeri ini yang awalnya calon wakil rakyat (caleg) berubah menjadi pejabat wakil rakyat yang dipilih rakyat, dan setelah menjadi pejabat lebih banyak lupanya kepada rakyat dan justru cenderung berbuat jadi pengkhianat rakyat alias menyengsarakan rakyat, lalu kalaupun ingat rakyat yaitu setelah lima tahun atau disaat mau habis masa berlaku jadi wakil rakyat, dan itupun karena mengalami narkose atau ketagihan dan ingin kembali jadi pejabat wakil rakyat.

Terlepas dari semua kondisi yang terjadi selama ini, ataupun kondisi pasca pemilu-pemilu terdahulu, dihadapan kita hanya tinggal sedikit lagi waktu atau bisa dihitung dengan hitungan menit bahkan hitungan detik menuju hari pencontrengan. Apakah kita sebagai rakyat pemilih bisa berpikir dengan akal sehat atau tidak, semua kembali kapada kita. Memang kalau menilik pengalaman dan hasil pemilu terdahulu, wajar lahir sikap skeptis dan pesimis atas apapun yang akan dihasilkan pemilu kali ini. Mungkin masih banyak yang akan beranggapan pemilu kali ini hasilnya sama saja dengan pemilu-pemilu sebelumnya, sehingga logika berpikir rakyat mengalami friksi dan tidak lagi sepenuhnya mengedepankan kepentingan masa depan bangsa dan negara. Jika sudah demikian acara mencontreng yang menjadi agenda politik penting dinegara ini, maknanya hanya menjadi sekedar sebuah perbuatan memenuhi undangan untukmemilih lalu melaksanakan hak pilih secara beramai-ramai tanpa perhitungan bahwa hak pilih itu sebenarnya bernilai politis dan sangat menentukan perjalan bangsa.

Namun kalaulah kita katakan bahwa pemilu kali ini hasilnya akan berbeda karena figur wakil rakyat yang akan dihasilkan oleh pemilu kali ini juga akan berbeda dengan pemilu terdahulu, bisa saja diterima akal dan sangat berpeluang untuk terwujud oleh karena sistem pemilu kali ini adalah sistem pemilu yang sangat demokratis untuk pertama kali yang akan digunakan, dan sudah pasti berbeda dengan sistem pemilu terdahulu. Tapi yang jelas yang semua yang akan dihasilkan pemilu demokratis ini tergantung hasil contrengan rakyat. Sejatinya rakyat diharap bisa berpikir untuk menentukan pilihan, sebab rakyat dihadapkan dengan berbagai macam merek calon wakil rakyat hasil produksi partai politik untuk dijadikan pilihan. Bagi masing-masing partai politik deretan figur caleg yang dijualnya kepada rakyat pemilih sudah pasti diklaim sebagai produk terbaik, berkualitas dan layak jual meskipun kenyataannya masih banyak produk caleg buruk dan berpotensi berjiwa koruptur yang dihasilkannya, namun itulah kata partai yang nota bene pabrik caleg, sebab tak ada kecap yang tak nomor satu.

Kita yakin bahwa masyarakat awam tidak semua bodoh menilai, masih banyak rakyat tahu dan mampu menilai siapa yang terbaik diantara deretan para caleg. Semua itu tergantung rakyat, ditengah masih banyaknya rakyat yang mampu menilai apakah akan memilih dan mencontreng yang terbaik atau tidak, tentu motivasi untuk menentukan pilihan juga tergantung kapada cara berpikir, apakah bisa berpikir dengan akal sehat dibarengi dengan berbagai aspek pertimbangan, atau setidak-tidaknya bisa berpikir sedikit menggunakan akal sehat atau sama sekali tidak berpikir dengan konteks demikian. Yang pasti hasil contrengan rakyat akan melahirkan dua pilihan yakni “Contrengan Rakyat Membawa Nikmat” jika caleg yang terpilih adalah figure yang bersih, dan peduli dengan rakyat, atau “Contrengan Rakyat Membawa Laknat” jika caleg yang terpilih adalah figur pengkhianat Rakyat.

Penulis Adalah

Direktur Eksekutif Government Monitoring (GoMo)

dan Vocal Point, Institute for Judicial Monitoring (IJM)

Siantar-Simalungun

e-mail :m.alinapiahs@yahoo.com

http//www.ali-dolisimbolon.blogspot.com



Sabtu, 04 April 2009

AKU DENGAN ARBI SANIT PENGAMAT DAN PENELITI LIPI


Saat Aku bersama ARBI SANIT, Pakar dan Pengamat Politik Nasional yang juga Peneliti Senior LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), pada Acara Diskusi Publik dan Penandatanganan Kontrak Politik Caleg Siantar-Simalungun, di Convention Hotel Siantar Hotel Pematangsiantar, Senin 30 Maret 2009.

BERSAMA ARBI SANIT DAN REKAN AKTIVIS

Aku dengan ARBI SANIT serta Rekan Aktivis
di Acara Diskusi Publik dan Penandatanganan Kontrak Politik Caleg Siantar-Simalungun, di Convention Hall Siantar Hotel Pematangsiantar, Senin 30 Maret 2009

Running Teks ANTARA


Berita Terkini dari ANTARA